
3 PIRANTI MENGHADAPI KESULITAN
Oktober 6, 2010Hidup ini bagaikan roda, adakalanya diatas dan ada kalanya dibawah. Ketika diatas kita menerima rizki dan nikmat dari Allah SWT sehingga kita bergembira, bersukacita menerima nikmat itu. Dan adakalanya roda itu di bawah ketika kita menerima kesulitan, menerima ujian dari Allah SWT. Kemudahan ataupun kesulitan bagi seorang muslim adalah ajang bagi dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, banyak dari kita yang lebih siap ditimpa kebahagiaan daripada siap ditimpa kesulitan. Maka islam menyiapkan berbagai piranti agar kita tetap setia ketika menghadapi kesulitan.
Ada 3 Piranti besar yang harus dimiliki orang muslim ketika menghadapi kesulitan, yaitu :
1. Kekuatan akidah
Sebuah basic keyakinan yang kuat bahwa kesulitan itu datangnya dari Allah SWT untuk menguji dirinya. Dan kalau kita meyakini itu, maka Allah tetap mencintainya. Ekspresi serta aktualisasi cinta Allah pada kita adalah Allah memberi musibah atau memberi kesulitan. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ketika mencintai seseorang, Allah akan memberikan bala (musibah) kepada orang itu”. Ini cara Allah untuk melihat kesetiaan cinta kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita perlu mengasah kekuatan akidah, kekuatan keyakinan kita kepada Allah SWT, bahwa semua ini datangnya dari Allah sebagai bentuk cinta-Nya kepada kita, agar kita siap menerima kesulitan sebagaimana kita siap menerima kemudahan.
2. Kesinambungan ibadah
Ketika kesulitan itu datang, orang harus semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah – ibadah yang dilakukannya. Yang sering terjadi, ketika musibah itu datang kita semakin jauh dengan Allah. Ini salah besar. Oleh karenanya, ketika dalam keadaan gembira, sukacita kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah berkenan mendekati kita ketika kesulitan, musibah itu datang. Dan inilah yang membedakan orang dalam mengahadapi musibah. Ada yang siap menghadapinya dengan tetap mendekatkan diri kepada Allah, dengan berdo’a. Ada yang menyalahkan Allah, kenapa ini menimpa dirinya.
3. Kekuatan moral
Kemampuan untuk menjaga keseimbangan diri. Dengan kekuatan moral kita akan mayakini bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Karena Allah berfirman, “bersama kesulitan ada kemudahan”. Sehingga kita perlu mencari kemudahan dalam kesulitan, karena dalam firman tersebut bukan setelah kesulitan ada kemudahan namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kita perlu mencari celah – celah kebahagiaan, kemudahan di balik kesulitan yang kita hadapi. Rasulullah, para rasul dan nabi terdahulu, sukses bukan dimanjakan oleh kemudahan yang diterima namun mereka sukses mencari celah – celah kemudahan dalam kesulitan. Maka, kita perlu mencari celah – celah kebahagiaan dalam kesulitan yang kita hadapi.
- dirangkum dr ceramah USt. Rofi’ Munawar, Lc -