Arsip untuk Oktober, 2010

h1

Tiga Kejujuran

Oktober 8, 2010

“lek jujur ajur”, sebuah ungkapan jawa yang terkadang kita dengar yang artinya jika jujur maka kita hancur. Kejujuran menjadi sangat langka saat ini. Kejujuran menjadi mahal ketika kedustaan menjadi hal yang biasa. Namun, sebagai seorang muslim kita wajib untuk bisa berlaku jujur. Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah SWT, dalam ayat diatas.

Ada 3 Point penting dalam kejujuran yang perlu diperhatikan dan realisasikan :

1.  Sidqunniah (Kejujuran Niat)

Kejujuran berniat sangat penting dalam kehidupan kita, karena sebuah perbuatan pasti diawali dengan niat. Bagaimana melaksanakannya, yang pertama kita harus mampu menjaga hati dari penyakit, seperti iri, dengki, marah, ujub, dendam. Karena ketika bersarang maka sulit untuk bisa jujur di dalam hati. Ketika dendam, iri maka niat yang terjadi adalah niat dendam, niat iri. Setelah menjaga hati maka yang kedua adalah kita mampu memberi hati dengan menu yang baik, dan menunya hati adalah dzikrullah (dzikir kepada Allah).

Sehingga kejujuran hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersih hatinya dan orang yang bisa memberikan menu maksimal untuk nurani hatinya yaitu dengan berdzikir kepada Allah SWT. Karena kejujuran hatilah yang menentukan kejujuran yang lainnya.

2.  Sidqullisan (kejujurab lisan)

Menjaga lisan sangat penting bagi orang islam, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 70.

Pentingnya ungkapan yang jujur karena ungkapan yang dusta bisa merusak amal manusia. Seseorang bisa dipercaya manakala perkataannya bisa dipegang, seseorang memiliki harga diri manakala perkataannya adalah perkataan yang benar. Betapa banyak orang yang menyandang gelar sebagai tokoh kehilangan ketokohannya. Dan Rasulullah menyebut orang yang tidak jujur adalah Munafik. Ciri orang munafik ada 3 : Ketika dia berbicara dia dusta, ketika berjanji dia ingkar dan ketika dipercaya dia berkhianat.

Jujurnya ucapan kita adalah merupakan hergadiri kita.

3.  Jujurnya amal perbuatan kita

Ini adalah kunci segala – galanya. Kejujuran hati, kejujuran ucapan, implementasinya adalah kejujuran amal. Allah berfirman dalam Qur’an Surat Ash-shaaf ayat 2-3.

Dari sinilah kita mengetahui harga diri dan kewibawaan seseorang.

Orang yang tidak jujur dalam perbuatannya cenderung menjadikannya seseorang yang diktator, karena pintar memerintah namun dia sendiri melanggar perintahnya.

Semoga kita bisa melaksanakan ketiga kejujuran diatas secara bersama – sama.

Serasi niat kita, selaras dengan ucapan kita dan berbanding lurus dengan perbuatan kita.

-dirangkum dr ceramah Ust. Rofi’ Munawar, Lc. dengan sedikit tambahan dari penulis-

download : audio

h1

3 PIRANTI MENGHADAPI KESULITAN

Oktober 6, 2010

Hidup ini bagaikan roda, adakalanya diatas dan ada kalanya dibawah. Ketika diatas kita menerima rizki dan nikmat dari Allah SWT sehingga kita bergembira, bersukacita menerima nikmat itu. Dan adakalanya roda itu di bawah ketika kita menerima kesulitan, menerima ujian dari Allah SWT.  Kemudahan ataupun kesulitan bagi seorang muslim adalah ajang bagi dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, banyak dari kita yang lebih siap ditimpa kebahagiaan daripada siap ditimpa kesulitan. Maka islam menyiapkan berbagai piranti agar kita tetap setia ketika menghadapi kesulitan.

Ada 3 Piranti besar yang harus dimiliki orang muslim ketika menghadapi kesulitan, yaitu :

1. Kekuatan akidah

Sebuah basic keyakinan yang kuat bahwa kesulitan itu datangnya dari Allah SWT untuk menguji dirinya. Dan kalau kita meyakini itu, maka Allah tetap mencintainya. Ekspresi serta aktualisasi cinta Allah pada kita adalah Allah memberi musibah atau memberi kesulitan. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ketika mencintai seseorang, Allah akan memberikan bala (musibah) kepada orang itu”. Ini cara Allah untuk melihat kesetiaan cinta kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita perlu mengasah kekuatan akidah, kekuatan keyakinan kita kepada Allah SWT, bahwa semua ini datangnya dari Allah sebagai bentuk cinta-Nya kepada kita, agar kita siap menerima kesulitan sebagaimana kita siap menerima kemudahan.

2. Kesinambungan ibadah

Ketika kesulitan itu datang, orang harus semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah – ibadah yang dilakukannya. Yang sering terjadi, ketika musibah itu datang kita semakin jauh dengan Allah. Ini salah besar. Oleh karenanya, ketika dalam keadaan gembira, sukacita kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah berkenan mendekati kita ketika kesulitan, musibah itu datang. Dan inilah yang membedakan orang dalam mengahadapi musibah. Ada yang siap  menghadapinya dengan tetap mendekatkan diri kepada Allah, dengan berdo’a. Ada yang menyalahkan Allah, kenapa ini menimpa dirinya.

3. Kekuatan moral

Kemampuan untuk menjaga keseimbangan diri. Dengan kekuatan moral kita akan mayakini bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Karena Allah berfirman, “bersama kesulitan ada kemudahan”. Sehingga kita perlu mencari kemudahan dalam kesulitan, karena dalam firman tersebut bukan setelah kesulitan ada kemudahan namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kita perlu mencari celah – celah kebahagiaan, kemudahan di balik kesulitan yang kita hadapi. Rasulullah, para rasul dan nabi terdahulu, sukses bukan dimanjakan oleh kemudahan yang diterima namun mereka sukses mencari celah – celah kemudahan dalam kesulitan. Maka, kita perlu mencari celah – celah kebahagiaan dalam kesulitan yang kita hadapi.


- dirangkum dr ceramah USt. Rofi’ Munawar, Lc -

download audionya disini atau disini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.